JUDUL : CINTA DI DALAM GELAS
PENGARANG: ANDREA HIRATA
JUMLAH HAL :270
Sinopsis
Cinta di dalam gelas bertutur tentang perjuangannya untuk dihargai sebagai perempuan. Enong alias Maryamah berasal dari keluarga yang sederhana. Dia adalah seorang perempuan yang pekerja keras. Ia bekerja sebagai pendulang timah, Ia berusaha sedapat-dapatnya memenuhi apa yang diperlukan ketiga adiknya yakni, Ania, Luna dan Ulma. Setelah ketiga adiknya menikah mendahuluinya mereka masing-masing pergi meninggalkan rumah, mengikuti suami masing-masing, maka tinggalah Maryamah bersama Ibunya.
Beberapa waktu kemudian, Syalimah jatuh sakit. Selama ibunya sakit, Enong sering mendapati ibunya memandanginya dengan sedih. Enong tahu apa yang ingin ia katakan. Karena Itu, ia menerima pinangan seorang lelaki yang bernama Matarom. Tak seperti perkawinan ibu dan ketiga adiknya. Kelakuan buruk suaminya telah tampak sejak awal pernikahan, namun ia bertahan. Seburuk apapun ia diperlakukan ia menganggap dirinya telah mengambil keputusan dan dia selalu berusaha menjaga perasaan ibnya. Namun, pertahanan Enong berakhir ketika suatu hari datang seorang perempuan yang mengaku sebagai istri Matarom. Di kios Giok Nio, selamot dan Maryamah berjumpa. Mendengar Maryamah berkisah tentang nasibnya. disitu Maryamah ingin sekali belajar main catur, karena ingin bertanding dengan Matarom yang sekarang menjdai mantan suaminya. Matarom adalah seorang pecatur tangguh. Sudah dua kali berturut-turut meraup piala catur kejuaraan 17 agustus. Sekarang ia bersiap menggondol piala untuk ketiga kalinya.
orang yang pertama mereka temui setelah pembicaraan dengan Maryamah di kios ayam Giok Nio adalah detektif M. Nur, ia menyatakan bahwa ini menyangkut martabat maryamah di depan Matarom. Usai menemui detektif m. Nur, ia langsung berbicara dengan ibunya bahwa ia harus membantu Maryamah agar bisa bertanding catur 17 agustus nanti. Ibunya pun menyetujuinya. Pertarungan pertama Maryamah melawan aziz, penonton berbondong-bondong datang ke warung kopi. Penonton menjadi banyak karena ada penonton perempuan yang ingin menjadi supporter Maryamah. Penonton bertepuk tangan gagap gempita dan berusaha mendekati Maryamah untuk menyalaminya.
Lawan berikutnya adalah Maksum, meskipun telah menang tiga kali, Maryaah belum mendapat cukup respek diantara pecatur pria alasannya karena Maryamah mendapat lawan-lawan yang lemah. Lawan berikutnya lagi adalah Muntaha karena mendadak dinas ke pangkal pinang, akhirnya digantikan dengan maulidi, Maryamah menang dalam pertandingan itu.
Selang beberapa hari lawan Marymah berikutnya adalah seorang lelaki tua hokian bernama Go Kim Pho. Ia adalah pemilik toko dupa di tanjung pandan itu. Lelaki ini pernah menolong Maryamah yang terlunta-lunta mencari kerja di tanjunng Pandan. Dialah yang memberinya uang untuk pulang kampung. Disaat pertandingan berlangsung Maryamah menampilkan permainannya yang elegan.Dan member Go Kim Pho sebuah kekalahan yang agung.
Setelah pertandingan Marymah dan pecatur lainnya telah usai, maka tibalah di arena catur tahun ini perayaan hari kemerdekaan 17 agustus benar-benar tersa. Kaum perempuan pedagang kecil yang berunjuk rasa, untuk mendukung pendaftaran Maryamah tempo hari tiba dalam satu rombongan besar yang meriah. Semuanya ingin menyaksikan seorang perempuan yang digembor-gemborkan sangat lihai bermain catur. Mereka hadir dari pelosok-pelosok pulau dalam pakain serba hitam. Mereka tak paham catur tapi ingin melihat papan catur perak yang magis itu. Mitoha secara resmi meminta pada Modin untuk memakai papan catur perak, Matarom pada final. Modin menyarankan agar kami menerima permintaan Mitoha.
Akhirnya disitu, Maryamah dan Matarom berhadap-hadapn. Maryamah maupun Matarom seperti tak sabar ingin segera bunuh-bunuhan, ppenonton semakin tegang. Meledaklah sorakan pendukung catur perempuan yang gagah berani itu. Maryamah berdiri dan menatap ke atas, jiwanya seakan terangkat kelangit. para pendukung Matarom kini berbalik mendukungnya. Matarom bersandar lemas di kursinya dengan mata nanar, sabuk emas yang melilit pinggangnya selama dua tahun terlepas sudah. Maryamah pantas manjadi juara.
Unsur intrinsik
1. tema : Perjuangan untuk dihargai sebagai perempuan
2. latar/seting :
- tempat : Belitung (warung kopi, rumah, pasar, gedung,
jalan menuju warung kopi)
- waktu : pagi :“kuduga, pagi ini akan berlaludengan damai. ia
duduk dikursi malasnya (Hal.31)
malam :malam esoknya dalam perjalanan ke rumah Maryamah, aku teryarik melihat orang berkumpul di warung kopi”(Hal.52)
sore : “ia mendelik padaku. mendengarkan kau itu bai ?
sore itu bolong panggung menteri pendidikan di jelek-jelekkan (hal. 58)
3. Suasana :
sedih : melalui pintu kamar yang terbuka, ia menatap ibunya
yang terbaring lemah di atas tempat tidur. salah satu yang paling ia sesali dari kehancuran rumah tangganya adalah karena ia merasa persoalann itu telah membebani pikiran ibunya berulang kali menyatakan bahwa jodoh tak ubahnya umur, bisa panjang dan bisa pula pendek. (hal. 88)
Tegang :“lulusan terbaik ke lima” kata Bu Indri. Ia menunda menyebut namanya mungkin karena sangat istimewa.(hal.30)
Gembira :Maryamah berdiri dan menatap ke atas. Jiwanya seakan
terangkat ke langit (hal. 265)
4. Tokoh : - Maryamah : Mantan istri Matarom, seorang pecatur
perempuan.
- Matarom : Mantan suami Maryamah, pecatur kelas handal
- Detektif M. Nur : seorang detektif yang professional
- Sersan kepala zainudin : pensiuna dari kepolisian dan membuka warung kopi.
- Ajudan pemegang bantal ambeien : menduduki jabatan yang ditinggalkan sersan kepala.
- paman : membuka warung kopi dan mencalonkan diri menjadi anggota DPRD
- Selamot : teman sekaligus meneger Maryamah.
5. Alur /Plot : Menceritakan kisah perjalanan nasib Enong alias Maryamah
yang berasal dari keluarga yang sederhana. Maryamah yang menyentuh bidak catur saja belum pernah, harus mengalahkan juara catur selama dua tahunberturut-turut yang sekaligus juga mantan suaminya. Namun, lebih dari itu Maryamah bisa menjadi tantangan berat untuk bisa menyebur ke dalam pertandingan penuhharkat bagi kaum lelaki ini.
6. Amanat : Belajar adalah tingkat kesuksesan. dengan belajar kita dapat
meraih apa yang kita impikan
NAMA : HASNA LA DONDO
NIM : 2005-35-060
MK : TEORI SASTRA
SASTRA MEMBUAT KITA LEBIH MEMAHAMI REALITAS YANG TERJADI SEBAGAI NILAI HIDUP YANG LAYAK UNTUK DIPELAJARI SEHINGGA MEMBUAT PARADIGMA BERPIKIR LEBIH BIJAKSANA.
Senin, 26 Juli 2010
Surat Cinta dari Bukit Zion
Judul : Surat Cinta dari Bukit Zion
Pengarang : Luqman Hakim Gayo
Penerbit : PT Dian Rakyat
Jumlah Halaman : 353 Halaman
Tokoh-tokohnya :
1. Zaheeda el-Raudhah
2. Rabby Edhon
3. Gabrael
4. Yehuda Mayaor
5. Ayah Zaheeda
6. Ibu Zaheeda
7. Rafiah
8. Sa’diyah
9. Ghamal el-Raudhah
10. Ayah Rabby Edhon
11. Ibu Rabby Edhon
12. Saraj
13. Haya el-Ghaneem
14. Ellyah
15. Ibu tua
I. Sinopsis
Rabby Edhon adalah seorang tentara serdadu Israel yang bertugas di Palestina jalur Gaza City. Di samping itu Rabby adalah seorang pemuda yang gagah dan tampan, selain itu ia juga baik sehingga ternyata Zaheeda garis Palestina sampai jatuh cinta kepadanya. Demikian halnya dengan Rabby sendiri yang juga menaruh hati kepada Zaheeda gadis cantik itu.
Percintaan dua anak manusia yang sangat berbeda jauh, baik harta, kehormatan, kedudukan, bangsa serta dari agama yang berbeda ini berjalan secara diam-diam sebab Rabby Edhon adalah seorang pemuda yang berasal dari keturunan yahudi yang tidak diperbolehkan menikah dengan gadis Palestina. Sebab kedua bangsa tersebut sering bertikai serta berperang tetapi kekuatan cintalah yang dapat mengalahkan segalanya.
Ketika mereka menikah Zaheeda melahirkan seorang anak laki-laki bernama Gabrael dan setelah anak itu berumur 6 bulan, Rabby Edhon di beri tugas ke Yerusalem. Disaat itulah kedua anak manusia tersebut berpisah hingga anaknya berumur 7 tahun Rabby Edhon belum juga kembali dari tempat tugasnya. Namun karena jarak dan waktu yang memisahkan kerinduan ke dua anak manusia itu hanya di kabarkan melalui sebuah surat yang ditulis oleh Rabby Edhon dari bukit Zion yang tertulis demikian “ Aku akan datang menjalin cinta kita yang terbengkalai, Zaheeda” janji dari Rabby Edhon seorang serdadu Israel pada istrinya yang seorang muslimah Palestina.
Suatu saat ketika Rabby Edhon berniat ingin menemui keluarganya serta isteri dan anaknya disitulah berakhirlah kisah hidupnya. Ia dikabarkan telah meninggal dunia dengan cara yang amat tragis bahwa dia terkena bom ketika ingin melewati tembok Yerusalem untuk keluar dari tempat dimana ia bertugas. Kemudian setelah sepeninggalnya Rabby Edhon, Yehuda Mayoor adalah sahabat dekatnya Rabby Edhon melamar Zaheeda untuk dijadikan isteri. Dari kejadian itulah tercipta cinta yang tumbuh di Qiryat Arba sebuah tempat kediaman yang diberikan oleh Rabby Edhon kepada Zaheeda dan anaknya.
II. Unsur Intrinsik dari novel” Surat Cinta Dari Bukit Zion”
1. Tema Cerita : Perjalanan cinta dua anak manusia. Tentang cinta seorang serdadu Israel yang terpaut pada seorang gadis Palestina. Cinta terpantik, lahir dan berkembang walau perang menerjang walau konflik membekap namun, kekuatan cinta (The Power Of Love) mengalahkan semuanya.
2. Tokoh-tokohnya :
1) Zaheeda el-Raudhah adalah seorang muslimah yang cantik dan lembut sapaannya berasal dari palestina yang baik hati (Hal 2-3).
2) Rabby Edhon adalah seorang pemuda tampan yang berprofesi sebagai seorang serdadu Israel yang berhati baik (Hal 8-13).
3) Gabrael merupakan anak dari Zaheeda dan Rabby, Gabrael merupakan seorang anak yang lucu, baik dan rajin (Hal 2-3).
4) Yehuda Mayoor adalah teman serdadu Rabby Edhon yang baik hati (Hal 28).
5) Ayah Zaheeda adalah seorang ayah yang baik hati (Hal 28-33).
6) Ibu Zaheeda adalah seorang ibu yang baik dan pengertian (Hal 42).
7) Sa’diyah adalah adik Zaheeda yang cantik dan baik (Hal 236).
8) Rafiah adalah adik Zaheeda yang cantik dan baik (Hal 236).
9) Ayah Rabby adalah seorang veteran Israel yang bijaksana (Hal 291).
10) Ibu Rabby adalah seorang yang baik hati (Hal 302).
11) Ghamal Raudhah adalah abang Zaheeda merupakan seorang pejuang yang sangat keras kepala (Hal 95).
12) Siraj adalah seorang pejuang komandan hamas (Hal 249).
13) Ellyah adalah seorang gadis kecil yang baik (Hal 136).
14) Haya el-Ghaneem adalah seorang pekerja Zaheeda yang baik hati (Hal 46).
15) Ibu tua adalah seorang yang baik hati (Hal 312).
3. Latar / setting : Di Palestina tepatnya jalur Gaza City.
4. Alur / plot : Alur yang terdapat dalam novel “Surat Cinta dari Bukit Zion” yaitu alur maju.
5. Sudut pandang : Pengarang mengangkat cerita tersebut berdasarkan kehidupan moral manusia secara universal, yang mana seorang serdadu Israel jatuh cinta kepada seorang gadis Palestina di tengah maraknya peperangan yang terjadi antara kedua belah pihak tersebut.
6. Gaya bahasa : Bahasa yang digunakan dalam novel ini ialah Bahasa Arab.
7. Amanat : Jagalah cinta suci yang telah ada dengan sebaik mungkin, karena cinta suci hanya datang sekali seumur hidup dan ia tidak akan pernah datang untuk kedua kali. Maka jikalau engkau diberikan kesempatan untuk mencintai seseorang jagalah dia dengan sepenuh jiwa ragamu dan yakinlah bahwa cinta yang engkau berikan berasal dari lubuk hati yang paling dalam.
NAMA : KETERINA TUHUTERU
NIM : 2006-35-029
UTS (SP) : TEORI SASTRA
Pengarang : Luqman Hakim Gayo
Penerbit : PT Dian Rakyat
Jumlah Halaman : 353 Halaman
Tokoh-tokohnya :
1. Zaheeda el-Raudhah
2. Rabby Edhon
3. Gabrael
4. Yehuda Mayaor
5. Ayah Zaheeda
6. Ibu Zaheeda
7. Rafiah
8. Sa’diyah
9. Ghamal el-Raudhah
10. Ayah Rabby Edhon
11. Ibu Rabby Edhon
12. Saraj
13. Haya el-Ghaneem
14. Ellyah
15. Ibu tua
I. Sinopsis
Rabby Edhon adalah seorang tentara serdadu Israel yang bertugas di Palestina jalur Gaza City. Di samping itu Rabby adalah seorang pemuda yang gagah dan tampan, selain itu ia juga baik sehingga ternyata Zaheeda garis Palestina sampai jatuh cinta kepadanya. Demikian halnya dengan Rabby sendiri yang juga menaruh hati kepada Zaheeda gadis cantik itu.
Percintaan dua anak manusia yang sangat berbeda jauh, baik harta, kehormatan, kedudukan, bangsa serta dari agama yang berbeda ini berjalan secara diam-diam sebab Rabby Edhon adalah seorang pemuda yang berasal dari keturunan yahudi yang tidak diperbolehkan menikah dengan gadis Palestina. Sebab kedua bangsa tersebut sering bertikai serta berperang tetapi kekuatan cintalah yang dapat mengalahkan segalanya.
Ketika mereka menikah Zaheeda melahirkan seorang anak laki-laki bernama Gabrael dan setelah anak itu berumur 6 bulan, Rabby Edhon di beri tugas ke Yerusalem. Disaat itulah kedua anak manusia tersebut berpisah hingga anaknya berumur 7 tahun Rabby Edhon belum juga kembali dari tempat tugasnya. Namun karena jarak dan waktu yang memisahkan kerinduan ke dua anak manusia itu hanya di kabarkan melalui sebuah surat yang ditulis oleh Rabby Edhon dari bukit Zion yang tertulis demikian “ Aku akan datang menjalin cinta kita yang terbengkalai, Zaheeda” janji dari Rabby Edhon seorang serdadu Israel pada istrinya yang seorang muslimah Palestina.
Suatu saat ketika Rabby Edhon berniat ingin menemui keluarganya serta isteri dan anaknya disitulah berakhirlah kisah hidupnya. Ia dikabarkan telah meninggal dunia dengan cara yang amat tragis bahwa dia terkena bom ketika ingin melewati tembok Yerusalem untuk keluar dari tempat dimana ia bertugas. Kemudian setelah sepeninggalnya Rabby Edhon, Yehuda Mayoor adalah sahabat dekatnya Rabby Edhon melamar Zaheeda untuk dijadikan isteri. Dari kejadian itulah tercipta cinta yang tumbuh di Qiryat Arba sebuah tempat kediaman yang diberikan oleh Rabby Edhon kepada Zaheeda dan anaknya.
II. Unsur Intrinsik dari novel” Surat Cinta Dari Bukit Zion”
1. Tema Cerita : Perjalanan cinta dua anak manusia. Tentang cinta seorang serdadu Israel yang terpaut pada seorang gadis Palestina. Cinta terpantik, lahir dan berkembang walau perang menerjang walau konflik membekap namun, kekuatan cinta (The Power Of Love) mengalahkan semuanya.
2. Tokoh-tokohnya :
1) Zaheeda el-Raudhah adalah seorang muslimah yang cantik dan lembut sapaannya berasal dari palestina yang baik hati (Hal 2-3).
2) Rabby Edhon adalah seorang pemuda tampan yang berprofesi sebagai seorang serdadu Israel yang berhati baik (Hal 8-13).
3) Gabrael merupakan anak dari Zaheeda dan Rabby, Gabrael merupakan seorang anak yang lucu, baik dan rajin (Hal 2-3).
4) Yehuda Mayoor adalah teman serdadu Rabby Edhon yang baik hati (Hal 28).
5) Ayah Zaheeda adalah seorang ayah yang baik hati (Hal 28-33).
6) Ibu Zaheeda adalah seorang ibu yang baik dan pengertian (Hal 42).
7) Sa’diyah adalah adik Zaheeda yang cantik dan baik (Hal 236).
8) Rafiah adalah adik Zaheeda yang cantik dan baik (Hal 236).
9) Ayah Rabby adalah seorang veteran Israel yang bijaksana (Hal 291).
10) Ibu Rabby adalah seorang yang baik hati (Hal 302).
11) Ghamal Raudhah adalah abang Zaheeda merupakan seorang pejuang yang sangat keras kepala (Hal 95).
12) Siraj adalah seorang pejuang komandan hamas (Hal 249).
13) Ellyah adalah seorang gadis kecil yang baik (Hal 136).
14) Haya el-Ghaneem adalah seorang pekerja Zaheeda yang baik hati (Hal 46).
15) Ibu tua adalah seorang yang baik hati (Hal 312).
3. Latar / setting : Di Palestina tepatnya jalur Gaza City.
4. Alur / plot : Alur yang terdapat dalam novel “Surat Cinta dari Bukit Zion” yaitu alur maju.
5. Sudut pandang : Pengarang mengangkat cerita tersebut berdasarkan kehidupan moral manusia secara universal, yang mana seorang serdadu Israel jatuh cinta kepada seorang gadis Palestina di tengah maraknya peperangan yang terjadi antara kedua belah pihak tersebut.
6. Gaya bahasa : Bahasa yang digunakan dalam novel ini ialah Bahasa Arab.
7. Amanat : Jagalah cinta suci yang telah ada dengan sebaik mungkin, karena cinta suci hanya datang sekali seumur hidup dan ia tidak akan pernah datang untuk kedua kali. Maka jikalau engkau diberikan kesempatan untuk mencintai seseorang jagalah dia dengan sepenuh jiwa ragamu dan yakinlah bahwa cinta yang engkau berikan berasal dari lubuk hati yang paling dalam.
NAMA : KETERINA TUHUTERU
NIM : 2006-35-029
UTS (SP) : TEORI SASTRA
JUDUL : PERAWAN SUCI DARI BASRAH
JUDUL : PERAWAN SUCI DARI BASRAH
KARANGAN : WIDAD EL SAKKAKINI
PENERBIT : GARAILMU
JUMLAH HAL : 187
Kita dapat memotret Basrah saat itu, yang tengah mencapai puncak perkembangan dan kejayaannya. Setelah diduduki penakluk Arab, yang tidak hanya memetik keuntungan dari potensi politik dan posisi geografis, tetapi juga telah membuka luas pintu ilmu pengetahuan, peradaban dan kajian keagamaan, Basrah menjadi sebuah kota yang dibangun dengan indah, yang juga dilengkapi dengan masjid-masjid dan lembaga-lembaga.
penduduk Basrah terdiri dari dua golongan kaya dan miskin. Rumah rabi’ah adalah salah satu di antara rumah-rumah yang miskin, kecil, reot, tempat di mana penduduk hanya sanggup memenuhi kebutuhan dalam hitungan hari tanpa sedikitpun menabung. Ketika mata menatap disaat tidur yang dipandang adalah kemewahan dan keberlimpahan dari orang yang kaya, yang senantiasa berkonfrontasi dengan mereka. Rabi’ah tumbuh dalam kesengsaraan, kesusahan dan kesucian. Ayahnya adalah orang yang asketis, sederhana dan mempraktikan zuhud, pantang meminta tolong, istiqomah dalam menghindari larangan dan menjalankan perintah. Saat kelaparan merajalela, para opertunis ( yang hanya mencari dan menfaatkan keadaan) dan pencuri bermunculan, para penjual budak menangkapi orang-orang yang hampir tak terlindungi. Rabiah adalah salah satu korbannya. Rabi’ah selalu diikuti dan diuber-uber oleh seorang pencuri yang ganas, yang karena mereka, Rabi’ah lari menjerit dan meminta tolong. Dia jatuh ke tanah, pencuri itu merebutnya layaknya sebuah benda yang hina dina. Setelah itu, Rabi’ah dijual dengan ganti enam keping perak kepada saudagar kaya. Dia melayani tuan barunya dengan taat dan dalam kesabaran. Setiap malam Rabi’ah selalu berdo’a atas penderitaan yang dialaminya, suatu malam setelah mendengar do’a Rabi’ah, tuannya terpesona bercampur rasa takut, ratapan Rabi’ah meneror hatinya.
Kumudian hatinya tersentuh dan memberikan palihan kepada rabi’ah bebas dari perbudakan, atau ingin bebas, dan Rabi’ah memilih untuk bebas, setelah bebas dia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.
Setiap hari dia hanya berdo,a dan berdo’a, mencari nafkah hanya sekedarnya. Rabi’ah adalah wanita yang di berikan kecerdasan oleh Tuhan dalam pemahaman agama, sehingga membuat dia lupa akan urusan dunia, dia bahkan tidak seperti wanita lain, yang ingin menikah dan mempunyai keturunan. Suatu hari ada seorang saudagar kaya datang melamarnya tapi ditolaknya.dia memilih membujang supaya bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan pertapanya dan bergabung dengan persahabatan para asketiskus yang lain. Dia merasakan dirinya suci dan tidak berdosa dan tulus pada tingkat yang dia tidak mengharapkan untuk memberikan sebuah usaha yang instan kepada setiap orang kecuali hanya membahagiakan Tuhan. Ada banyak materi dalam tulisan tentang Rabi’ah dan hampir semuanya bersifat spekulatif. Ini adalah buku yang tentu menarik bagi setiap orang yang merasa heran terhadap wanita agung ini. Ditengah kesengsaraan hidup dia hanya pasrahkan kepada Tuhan. Rabi’ah menyadari sebuah cita-cita, dia menunjukkannya untuk mereka dengan benar dan sungguh-sungguh. Dia menghidupkan cita-cita itu dengan pandangan, pengetahuan dan kebenaran. Dia meninggalkan sebuah pintu yang terbuka yang tidak pernah ditutup lagi untuk wanita-wanita sebagai bentuk penghargaan yang terhormat dan bernilai. Dia adalah seorang wanita yang memimpin peringkat orang-orang yang berdedikasi. dia menjadi bukti yang hidup baik dalam beribadah maupun dlam mencintai Tuhan. Dialah Perawan Suci dari Basrah.
UNSUR INTRINSIK
1. Tema : Perjuangan seorang perempuan Basrah yang mempertahankan kehormatan wanita di Dunia dan akhirat.
2. Lattar/Setting : tempat dan waktu terjadinya peristiwa dalam sebuah cerita.
Tempat : Kota Basrah, Irak, Ka’bah, Mekkah.
Waktu : cerita ini terjadi pada akhir abad ke-8 dan paruh awal abad ke-9 (menurut kalender masehi).
3. Penokohan : Attar salah seorang sufi yang bertutur tentang Rabi’ah.
Rabi’ah seorang wanita alim yang dianggap sebagai Maria kedua dan wanita tanpa noda, selalu bersabar dalam mengahadapi cobaan-cobaan. seorang wanita yang patut ditiru oleh wanita lain dalam hal beribadah.
Ismail adalah ayah Rabi’ah, seorang pelupa, linglung, terlalu sering dalam mendalami mimpi-mimpi religius.
4. Alur/Plot : dalam cerita ini memakai alur campuran yang menceritan berkembangan hidup seorang Rabiah, dan sejarah yang berhubunngan dengannya.
5. Amanat : Dari budak hina menjadi wanita suci, kekal dalam kitab sejarah kemuliaan, berkat kekhusukan dan keintimannya dalam mencintai Allah. Tak ada yang meragukan keanggunan, pesona, dan keindahan cinta sang perawan dari basrah ini. Dialah Rabi’ah al-Adawiyyah dan inilah saksi cinta sucinya yang abadi sepanjang masa. Belajarlah darinya, cicipilah lezatnya anggur cintanya……….
NAMA : DARNA ERNAWATI
NIM : 2005-35-063
MK : TEORI SASTRA
KARANGAN : WIDAD EL SAKKAKINI
PENERBIT : GARAILMU
JUMLAH HAL : 187
Kita dapat memotret Basrah saat itu, yang tengah mencapai puncak perkembangan dan kejayaannya. Setelah diduduki penakluk Arab, yang tidak hanya memetik keuntungan dari potensi politik dan posisi geografis, tetapi juga telah membuka luas pintu ilmu pengetahuan, peradaban dan kajian keagamaan, Basrah menjadi sebuah kota yang dibangun dengan indah, yang juga dilengkapi dengan masjid-masjid dan lembaga-lembaga.
penduduk Basrah terdiri dari dua golongan kaya dan miskin. Rumah rabi’ah adalah salah satu di antara rumah-rumah yang miskin, kecil, reot, tempat di mana penduduk hanya sanggup memenuhi kebutuhan dalam hitungan hari tanpa sedikitpun menabung. Ketika mata menatap disaat tidur yang dipandang adalah kemewahan dan keberlimpahan dari orang yang kaya, yang senantiasa berkonfrontasi dengan mereka. Rabi’ah tumbuh dalam kesengsaraan, kesusahan dan kesucian. Ayahnya adalah orang yang asketis, sederhana dan mempraktikan zuhud, pantang meminta tolong, istiqomah dalam menghindari larangan dan menjalankan perintah. Saat kelaparan merajalela, para opertunis ( yang hanya mencari dan menfaatkan keadaan) dan pencuri bermunculan, para penjual budak menangkapi orang-orang yang hampir tak terlindungi. Rabiah adalah salah satu korbannya. Rabi’ah selalu diikuti dan diuber-uber oleh seorang pencuri yang ganas, yang karena mereka, Rabi’ah lari menjerit dan meminta tolong. Dia jatuh ke tanah, pencuri itu merebutnya layaknya sebuah benda yang hina dina. Setelah itu, Rabi’ah dijual dengan ganti enam keping perak kepada saudagar kaya. Dia melayani tuan barunya dengan taat dan dalam kesabaran. Setiap malam Rabi’ah selalu berdo’a atas penderitaan yang dialaminya, suatu malam setelah mendengar do’a Rabi’ah, tuannya terpesona bercampur rasa takut, ratapan Rabi’ah meneror hatinya.
Kumudian hatinya tersentuh dan memberikan palihan kepada rabi’ah bebas dari perbudakan, atau ingin bebas, dan Rabi’ah memilih untuk bebas, setelah bebas dia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.
Setiap hari dia hanya berdo,a dan berdo’a, mencari nafkah hanya sekedarnya. Rabi’ah adalah wanita yang di berikan kecerdasan oleh Tuhan dalam pemahaman agama, sehingga membuat dia lupa akan urusan dunia, dia bahkan tidak seperti wanita lain, yang ingin menikah dan mempunyai keturunan. Suatu hari ada seorang saudagar kaya datang melamarnya tapi ditolaknya.dia memilih membujang supaya bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan pertapanya dan bergabung dengan persahabatan para asketiskus yang lain. Dia merasakan dirinya suci dan tidak berdosa dan tulus pada tingkat yang dia tidak mengharapkan untuk memberikan sebuah usaha yang instan kepada setiap orang kecuali hanya membahagiakan Tuhan. Ada banyak materi dalam tulisan tentang Rabi’ah dan hampir semuanya bersifat spekulatif. Ini adalah buku yang tentu menarik bagi setiap orang yang merasa heran terhadap wanita agung ini. Ditengah kesengsaraan hidup dia hanya pasrahkan kepada Tuhan. Rabi’ah menyadari sebuah cita-cita, dia menunjukkannya untuk mereka dengan benar dan sungguh-sungguh. Dia menghidupkan cita-cita itu dengan pandangan, pengetahuan dan kebenaran. Dia meninggalkan sebuah pintu yang terbuka yang tidak pernah ditutup lagi untuk wanita-wanita sebagai bentuk penghargaan yang terhormat dan bernilai. Dia adalah seorang wanita yang memimpin peringkat orang-orang yang berdedikasi. dia menjadi bukti yang hidup baik dalam beribadah maupun dlam mencintai Tuhan. Dialah Perawan Suci dari Basrah.
UNSUR INTRINSIK
1. Tema : Perjuangan seorang perempuan Basrah yang mempertahankan kehormatan wanita di Dunia dan akhirat.
2. Lattar/Setting : tempat dan waktu terjadinya peristiwa dalam sebuah cerita.
Tempat : Kota Basrah, Irak, Ka’bah, Mekkah.
Waktu : cerita ini terjadi pada akhir abad ke-8 dan paruh awal abad ke-9 (menurut kalender masehi).
3. Penokohan : Attar salah seorang sufi yang bertutur tentang Rabi’ah.
Rabi’ah seorang wanita alim yang dianggap sebagai Maria kedua dan wanita tanpa noda, selalu bersabar dalam mengahadapi cobaan-cobaan. seorang wanita yang patut ditiru oleh wanita lain dalam hal beribadah.
Ismail adalah ayah Rabi’ah, seorang pelupa, linglung, terlalu sering dalam mendalami mimpi-mimpi religius.
4. Alur/Plot : dalam cerita ini memakai alur campuran yang menceritan berkembangan hidup seorang Rabiah, dan sejarah yang berhubunngan dengannya.
5. Amanat : Dari budak hina menjadi wanita suci, kekal dalam kitab sejarah kemuliaan, berkat kekhusukan dan keintimannya dalam mencintai Allah. Tak ada yang meragukan keanggunan, pesona, dan keindahan cinta sang perawan dari basrah ini. Dialah Rabi’ah al-Adawiyyah dan inilah saksi cinta sucinya yang abadi sepanjang masa. Belajarlah darinya, cicipilah lezatnya anggur cintanya……….
NAMA : DARNA ERNAWATI
NIM : 2005-35-063
MK : TEORI SASTRA
Kamis, 22 Juli 2010
ANGKATAN 50
ANGKATAN 1950
Nama : Farid Latif : 2008 – 35 - 030
Meis Pollatu : 2004 – 35 - 161
Sitti Nur A. Mandar : 2008 – 35 - 062
Disebut juga Generasi Kisah (nama majalah sastra). Di masa ini sastra Indonesia sedang mengalami booming cerpen. Juga marak karya-karya teater dengan tokohnya Motenggo Boesye, Muhammad Ali Maricar, W.S. Rendra (sekarang Rendra saja).Mulai tumbuh sarasehan-sarasehan sastra terutama di kampus-kampus. Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya. Sesungguhnya secara instrinsik cirri-ciri sastra terutama struktur estetiknya angkatan 45 dan angkatan 50 sukar dibedakan sebab gaya angkatan 45 dapat dikatakan diteruskan loleh angkatan 50. hanya saja, dengan adanya pergantian situasi dan suasana tanah air dari perangke perdamaian, darimasa transisi penjajahan ke kemerdekaan, maka para sastrawan mulai memikirkan asalah kemasyarakatan yang baru dalam suasana kemerdekaan. Begitu juga para sastrawan mulai membuat orientasi baru dengan mencari bahan-bahan dari sastra dan kebudayaan Indnesia sendiri. Semuanya itu dituangkan kedalam karya-karya sastra mereka.
Disamping itu, karena adanya berbagai ide politik yang dianut I ndonesia, terutama karena system demokrasi parlementer pada periode itu, maka timbul parta-partai politik lagi, yang selama perang kegiatannya terbatas. Tiap-tiap partai besar mempunyai lembag kebudayaan, seperti PNI mempunyai LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) partai Islam mempunyai Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Nasional), PKI mempunyai lekra (Lembaga Kbudayaan Rakyat). Maka corak kesusastraan Indonesia pada periode itu menjadi bermacam-macam Lesbumi dengan ide keislamaan. LKN dengan ide kenasionalan. Lekra dengan ide kemanusiaan dengan semboyan “seni utntuk rakyat”dan”politik sebagai panglima”.
Sastrawan-sastrawan yang (mulia) menulis dalam periode ini pada decade 50-an diantaranya Kirdjomuljo, WS Rendra, Ajib Rosidi, Toto Sudarto Bachtiar, Ramadhan KH, Nugroho Notosanto, Subagio Sastrowadojo, Mansur Samin, N.H. Dini, Trisnojuwono, Rijono Pratikno, Alexandre Leo, Jamil Suherman, Bokor Hutusahut, Bastari Asnin, B. Sularto, Motinggo Busye Nasjah Djamin, Mohamad Diponegoro, Toha Mochtar, Ratmono Sn. Piek Ardidyanto, Hartojo Andangjaya, dan sebagaiannya.
Para sstrawan lekra yang menonjol diantaranya Bakri Siregar (Angkatan 45), Klara Akustia (A.S. dharta), S. Ananta, F.L. Risakota, H.R. Bandaharo, dan Sabron Aidit. Sastrawan-sastrawan yang mulai menulis pada decade 60-an diantaranya: Umar Kayam, Sapardji Djoko Damono, Darmanto Jt, Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, Taufik Ismail, KUnto Wijoyo, Fudoli Zaini, Danarto, Sutardji Calzoum Bachri, Budi Darma, dan Abdul Hadi W.M.
Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Peristiwa penting pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
Dari sebagian saja sastrwan yang namanya dideretkan disini, tampak bahwa jumlah karya sastra mereka sangat banyaknya dalam kurun waktu 20 tahun itu. Cirri-cirinya sebagai berikut.
a.cirri struktur estetik
puisi :
1.gaya epik (bercerita) berkembang dengan berkembngnya puisi cerita dan balada, dengan gaya yang lebih sederhana dari puisi lirik.
2.gaya mantra mulai tampak balada-balada
3.gaya ulangan mulai pada berkembang (meskipun sudah dimulai oleh angkatan 45)
4.gaya puisi liris pada umumnya masih meneruskan karya gaya angkatan 45.
5.gaya slogan dan retorik makin berkembang.
Prosa :
Dalam hal prosa, rupa-rupanya cirri-ciri struktur estetik angkatan 45 masih tetap diteruskan oleh periode 50 ini hingga pada dasarnya tak ada perbedaan cirri struktur estetik prosa ini baru tampak jelas dalam periode 70.
Hanya saja pernah dikatakan bahwa gaya bercerita pada periode angkatan 50 ini adalah gaya murni bercerita, dalam arti, gaya bercerita hanya menajikan cerita saja, tanpa menyisipkan komentar, pikiran-pikiran sendiri, atau pandangan-pandangan semuanya itu melebur dalam cerita seperti puisi imajisme yang hanya menyajikan imaj-imaji berupa lukian atau gambaran, sedangka pikiran, tema, kesimpulan, terserah pada pembaca bagaimana menafsirkannya. Inilah yang merupakan perbedaan pokok dengan cerita rekaan angkatan 45 misalnya jelas seperti cerpen-cerpen Subagio Sastrowardojo, Trisnojuwono, dan Umar Kayam. Dengan hanya disajikannya cerita murni ini, maka alur menjadi padat.
b.cirri-ciri ekstra estetik
puisi :
1.ada gambaran suasana muram karena menggambarkan hidup yang penuh penderitaan
2.mengungkapkan masalah-masalah social, kemiskinan, pengangguran, perbedaan kaya miskin yang besar, belum adanya pemerataan hidup
3.banyak mengemukakan cerita-cerita dan kepercayaan rakyat sebagai pokok-pokok sajak balada.
prosa
1.cerita perang mulai berkurang
2.menggambarkan kehidupan sehari-sehari
3.kehidupan pedesaan dan daerah mulai digarap seperti tampak dalam novel Toha Mochtar pulang, Bokor Hutasuhut : Penakluk Ujung Dunia, dan cerpen-cerpen Bastari Asnin : Di Tengah Padang dan cerpen-cerpen Bastari Asnin Di Tengah Padang dan cerpen-cerpen Yusah Ananda
4.banyak mengemukakan pertentangan-pertentangan politik.
Visi-misi dari angkatan 50 ini adalh .Memantulkan kehidupan masyarakat yang masih harus terus berjuang dan berbenah di awal-awal masa kemerdekaan lewat karya sastra. Menghadirkan karya sastra Indonesia dengan menggunakan bahan dari sastra dan kebudayaan Indonesia sendiri.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an
Pramoedya Ananta Toer
Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
Bukan Pasar Malam (1951)
Di Tepi Kali Bekasi (1951)
Keluarga Gerilya (1951)
Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
Perburuan (1950)
Cerita dari Blora (1952)
Gadis Pantai (1965)
Nh. Dini
Dua Dunia (1950)
Hati jang Damai (1960)
Sitor Situmorang
Dalam Sadjak (1950)
Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
Mochtar Lubis
Tak Ada Esok (1950)
Jalan Tak Ada Ujung (1952)
Tanah Gersang (1964)
Si Djamal (1964)
Marius Ramis Dayoh
Putra Budiman (1951)
Pahlawan Minahasa (1957)
Ajip Rosidi
Tahun-tahun Kematian (1955)
Ditengah Keluarga (1956)
Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
Cari Muatan (1959)
Pertemuan Kembali (1961)
Ali Akbar Navis
Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1955)
Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
Hujan Panas (1964)
Kemarau (1967) Toto Sudarto Bachtiar
Etsa sajak-sajak (1956)
Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)
Ramadhan K.H
Priangan si Jelita (1956)
W.S. Rendra
Balada Orang-orang Tercinta (1957)
Empat Kumpulan Sajak (1961)
Ia Sudah Bertualang (1963)
Subagio Sastrowardojo
Simphoni (1957)
Nugroho Notosusanto
Hujan Kepagian (1958)
Rasa Sajangé (1961)
Tiga Kota (1959)
Trisnojuwono
Angin Laut (1958)
Dimedan Perang (1962)
Laki-laki dan Mesiu (1951)
Toha Mochtar
Pulang (1958)
Gugurnya Komandan Gerilya (1962)
Daerah Tak Bertuan (1963)
Purnawan Tjondronagaro
Mendarat Kembali (1962)
Bokor Hutasuhut
Datang Malam (1963
ADA TILGRAM TIBA SENJA
W.S. RENDRA
Ada tilgram tiba senja
Dari pusar kota yang gila
Disemat di dada Bunda.
(BUNDA LETIHKU TANDAS KE TULANG
ANAKDA KEMBALI PULANG)
Kapuk randu! Kapuk randu!
Selembut tudung cendawan
Kuncup-kuncup di hatiku
Pada mengembang bermekaean.
Dulu ketika pamit mengembara
Kuberi ia kuda bapanya
Berwarna sawo muda
Cepat larinya
Jauh perginya.
Dulu masanya rontok asam jawa
Untuk apa kurontokkan air mata.?
Cepat larinya
Jauh perginya.
Lelaki yang kuat biarlah menuruti darahnya
Menghunjam ke rimb dan pusar kota
Tinggal Bunda di rumah menepuki dada
Melepas hari tua, melepas doa-doa
Cepat larinya
Jauh perginya.
Elang yang gugur tergelatak
Elang yang gugur terrebah
Satu harapku pada anak
Ingat’kan pulang panila lelah
Kecilnya dulu meremasi susuku
Kini letih pulang ke ibu
Hartiku tersedu
Hatiku tersedu.
Bunga randu! Bunga randu!
Anakku lanang kembli kupangku.
Darah, o, darah
Ia pun lelah
Dan mengerti artinya rumah.
Rumah mungil berjendela dua
Serta bunga di abndulnya
Bukankah itu mesra?
Ada podang pulang ke sarang
Tembangnya panjang berulang-ulang,
Pulang, ya pulang, hai petualang!
Ketapang. Ketapang yang kembang
Berumpun di perigi tua
Anankku datang anankku pulang
Kembali kucium, kembali kuriba
(Ballada orang-orang tercinta, 1959 : 26-27)
Nama : Farid Latif : 2008 – 35 - 030
Meis Pollatu : 2004 – 35 - 161
Sitti Nur A. Mandar : 2008 – 35 - 062
Disebut juga Generasi Kisah (nama majalah sastra). Di masa ini sastra Indonesia sedang mengalami booming cerpen. Juga marak karya-karya teater dengan tokohnya Motenggo Boesye, Muhammad Ali Maricar, W.S. Rendra (sekarang Rendra saja).Mulai tumbuh sarasehan-sarasehan sastra terutama di kampus-kampus. Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya. Sesungguhnya secara instrinsik cirri-ciri sastra terutama struktur estetiknya angkatan 45 dan angkatan 50 sukar dibedakan sebab gaya angkatan 45 dapat dikatakan diteruskan loleh angkatan 50. hanya saja, dengan adanya pergantian situasi dan suasana tanah air dari perangke perdamaian, darimasa transisi penjajahan ke kemerdekaan, maka para sastrawan mulai memikirkan asalah kemasyarakatan yang baru dalam suasana kemerdekaan. Begitu juga para sastrawan mulai membuat orientasi baru dengan mencari bahan-bahan dari sastra dan kebudayaan Indnesia sendiri. Semuanya itu dituangkan kedalam karya-karya sastra mereka.
Disamping itu, karena adanya berbagai ide politik yang dianut I ndonesia, terutama karena system demokrasi parlementer pada periode itu, maka timbul parta-partai politik lagi, yang selama perang kegiatannya terbatas. Tiap-tiap partai besar mempunyai lembag kebudayaan, seperti PNI mempunyai LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) partai Islam mempunyai Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Nasional), PKI mempunyai lekra (Lembaga Kbudayaan Rakyat). Maka corak kesusastraan Indonesia pada periode itu menjadi bermacam-macam Lesbumi dengan ide keislamaan. LKN dengan ide kenasionalan. Lekra dengan ide kemanusiaan dengan semboyan “seni utntuk rakyat”dan”politik sebagai panglima”.
Sastrawan-sastrawan yang (mulia) menulis dalam periode ini pada decade 50-an diantaranya Kirdjomuljo, WS Rendra, Ajib Rosidi, Toto Sudarto Bachtiar, Ramadhan KH, Nugroho Notosanto, Subagio Sastrowadojo, Mansur Samin, N.H. Dini, Trisnojuwono, Rijono Pratikno, Alexandre Leo, Jamil Suherman, Bokor Hutusahut, Bastari Asnin, B. Sularto, Motinggo Busye Nasjah Djamin, Mohamad Diponegoro, Toha Mochtar, Ratmono Sn. Piek Ardidyanto, Hartojo Andangjaya, dan sebagaiannya.
Para sstrawan lekra yang menonjol diantaranya Bakri Siregar (Angkatan 45), Klara Akustia (A.S. dharta), S. Ananta, F.L. Risakota, H.R. Bandaharo, dan Sabron Aidit. Sastrawan-sastrawan yang mulai menulis pada decade 60-an diantaranya: Umar Kayam, Sapardji Djoko Damono, Darmanto Jt, Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, Taufik Ismail, KUnto Wijoyo, Fudoli Zaini, Danarto, Sutardji Calzoum Bachri, Budi Darma, dan Abdul Hadi W.M.
Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Peristiwa penting pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
Dari sebagian saja sastrwan yang namanya dideretkan disini, tampak bahwa jumlah karya sastra mereka sangat banyaknya dalam kurun waktu 20 tahun itu. Cirri-cirinya sebagai berikut.
a.cirri struktur estetik
puisi :
1.gaya epik (bercerita) berkembang dengan berkembngnya puisi cerita dan balada, dengan gaya yang lebih sederhana dari puisi lirik.
2.gaya mantra mulai tampak balada-balada
3.gaya ulangan mulai pada berkembang (meskipun sudah dimulai oleh angkatan 45)
4.gaya puisi liris pada umumnya masih meneruskan karya gaya angkatan 45.
5.gaya slogan dan retorik makin berkembang.
Prosa :
Dalam hal prosa, rupa-rupanya cirri-ciri struktur estetik angkatan 45 masih tetap diteruskan oleh periode 50 ini hingga pada dasarnya tak ada perbedaan cirri struktur estetik prosa ini baru tampak jelas dalam periode 70.
Hanya saja pernah dikatakan bahwa gaya bercerita pada periode angkatan 50 ini adalah gaya murni bercerita, dalam arti, gaya bercerita hanya menajikan cerita saja, tanpa menyisipkan komentar, pikiran-pikiran sendiri, atau pandangan-pandangan semuanya itu melebur dalam cerita seperti puisi imajisme yang hanya menyajikan imaj-imaji berupa lukian atau gambaran, sedangka pikiran, tema, kesimpulan, terserah pada pembaca bagaimana menafsirkannya. Inilah yang merupakan perbedaan pokok dengan cerita rekaan angkatan 45 misalnya jelas seperti cerpen-cerpen Subagio Sastrowardojo, Trisnojuwono, dan Umar Kayam. Dengan hanya disajikannya cerita murni ini, maka alur menjadi padat.
b.cirri-ciri ekstra estetik
puisi :
1.ada gambaran suasana muram karena menggambarkan hidup yang penuh penderitaan
2.mengungkapkan masalah-masalah social, kemiskinan, pengangguran, perbedaan kaya miskin yang besar, belum adanya pemerataan hidup
3.banyak mengemukakan cerita-cerita dan kepercayaan rakyat sebagai pokok-pokok sajak balada.
prosa
1.cerita perang mulai berkurang
2.menggambarkan kehidupan sehari-sehari
3.kehidupan pedesaan dan daerah mulai digarap seperti tampak dalam novel Toha Mochtar pulang, Bokor Hutasuhut : Penakluk Ujung Dunia, dan cerpen-cerpen Bastari Asnin : Di Tengah Padang dan cerpen-cerpen Bastari Asnin Di Tengah Padang dan cerpen-cerpen Yusah Ananda
4.banyak mengemukakan pertentangan-pertentangan politik.
Visi-misi dari angkatan 50 ini adalh .Memantulkan kehidupan masyarakat yang masih harus terus berjuang dan berbenah di awal-awal masa kemerdekaan lewat karya sastra. Menghadirkan karya sastra Indonesia dengan menggunakan bahan dari sastra dan kebudayaan Indonesia sendiri.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an
Pramoedya Ananta Toer
Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
Bukan Pasar Malam (1951)
Di Tepi Kali Bekasi (1951)
Keluarga Gerilya (1951)
Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
Perburuan (1950)
Cerita dari Blora (1952)
Gadis Pantai (1965)
Nh. Dini
Dua Dunia (1950)
Hati jang Damai (1960)
Sitor Situmorang
Dalam Sadjak (1950)
Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
Mochtar Lubis
Tak Ada Esok (1950)
Jalan Tak Ada Ujung (1952)
Tanah Gersang (1964)
Si Djamal (1964)
Marius Ramis Dayoh
Putra Budiman (1951)
Pahlawan Minahasa (1957)
Ajip Rosidi
Tahun-tahun Kematian (1955)
Ditengah Keluarga (1956)
Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
Cari Muatan (1959)
Pertemuan Kembali (1961)
Ali Akbar Navis
Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1955)
Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
Hujan Panas (1964)
Kemarau (1967) Toto Sudarto Bachtiar
Etsa sajak-sajak (1956)
Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)
Ramadhan K.H
Priangan si Jelita (1956)
W.S. Rendra
Balada Orang-orang Tercinta (1957)
Empat Kumpulan Sajak (1961)
Ia Sudah Bertualang (1963)
Subagio Sastrowardojo
Simphoni (1957)
Nugroho Notosusanto
Hujan Kepagian (1958)
Rasa Sajangé (1961)
Tiga Kota (1959)
Trisnojuwono
Angin Laut (1958)
Dimedan Perang (1962)
Laki-laki dan Mesiu (1951)
Toha Mochtar
Pulang (1958)
Gugurnya Komandan Gerilya (1962)
Daerah Tak Bertuan (1963)
Purnawan Tjondronagaro
Mendarat Kembali (1962)
Bokor Hutasuhut
Datang Malam (1963
ADA TILGRAM TIBA SENJA
W.S. RENDRA
Ada tilgram tiba senja
Dari pusar kota yang gila
Disemat di dada Bunda.
(BUNDA LETIHKU TANDAS KE TULANG
ANAKDA KEMBALI PULANG)
Kapuk randu! Kapuk randu!
Selembut tudung cendawan
Kuncup-kuncup di hatiku
Pada mengembang bermekaean.
Dulu ketika pamit mengembara
Kuberi ia kuda bapanya
Berwarna sawo muda
Cepat larinya
Jauh perginya.
Dulu masanya rontok asam jawa
Untuk apa kurontokkan air mata.?
Cepat larinya
Jauh perginya.
Lelaki yang kuat biarlah menuruti darahnya
Menghunjam ke rimb dan pusar kota
Tinggal Bunda di rumah menepuki dada
Melepas hari tua, melepas doa-doa
Cepat larinya
Jauh perginya.
Elang yang gugur tergelatak
Elang yang gugur terrebah
Satu harapku pada anak
Ingat’kan pulang panila lelah
Kecilnya dulu meremasi susuku
Kini letih pulang ke ibu
Hartiku tersedu
Hatiku tersedu.
Bunga randu! Bunga randu!
Anakku lanang kembli kupangku.
Darah, o, darah
Ia pun lelah
Dan mengerti artinya rumah.
Rumah mungil berjendela dua
Serta bunga di abndulnya
Bukankah itu mesra?
Ada podang pulang ke sarang
Tembangnya panjang berulang-ulang,
Pulang, ya pulang, hai petualang!
Ketapang. Ketapang yang kembang
Berumpun di perigi tua
Anankku datang anankku pulang
Kembali kucium, kembali kuriba
(Ballada orang-orang tercinta, 1959 : 26-27)
Senin, 19 Juli 2010
sepenggal kisah
OMBAK
(buku harian abadi)
Aku tak perduli
Meski jalan hidup penuh duri
Aku tak perduli
Bila harus menjadi meneger perusahaan sulit
Bahkan aku lebih tidak perduli lagi
Meski harus disuap tangan kuli
aku akan peduli
Bila riuhmu berteriak hampa
Sebab duri ini menusuk akan hilang
Mengabut di akhir gulunganmu
Sebab sesulit apapun bernafas di dunia ini
akan lebih sulit lagi
bila tak menulis harian di deru suaramu
maka tetaplah menari
diatas riuhnya nada-nada alam
dan bila pagi mengintip kuucap untukmu salam
maka teruslah bergulung berkejaran
dibawah bangau yang bersiulan
dan bila terik siang membakar jeritanmu jadi pelarian
lalu jika malam menutup hidup
sang surya meredup
maka kau lembarannya, tempat langkah-langkahku hari ini
kutuliskan disana
karena hamparanmu
adalah kertas abadi
dalam buku harian hidupku
OMBAK
( inspirasi bisu )
Saat tak ada lagi sebuah harapan
Diantara keharusan tuk mengambil sebuah keputusan
Gulunganmu adalah inspiran
Yang merujuk diriku pada sebuah pendirian
Saat patah dan hilang arah
Semua masa berlalu dengan amarah
Riakmu membawa dingin. Merubah
Dan seratus dari seratus kekesalan
Serta seribu dari seribu kesenangan
Semuanya kau rasakan
Lalu kembali hadirkan riuhnya kata-kata pembangun jiwa
Dan tiap kebuntuan
Ditiap-tiap gang sempit kehidupan
Berubah jadi lorong melebar
Saat semua daya dan upaya
Berhenti menepi disudut gelap kegagalan
Musnah menghampa, jadi awal tuk melangkah maju
AKU harus berjiwa besar
Tuk mentapmu dan berkata
TERIMAKASIH atas kesetia’an
Sebab kau adalah inspirasi meski tanpa sua bagiku
OMBAK
(semua dalam segala)
Riuhmu suara hatiku
Teduhmu nyanyian Qalbuku
Dan segalamu adalah jiwaku
Sebab kau adalah mangkuk kesetia’an
Tempat kucurahkan air mata didalamnya
Karena kau adalah lagu kegembiraa’
Tempat kudendangkan simponi kesenangan
Dalam nada-nadanya
Saat membludak lusinan amarah untukku
Kakimu yang mengelus ketabahan
Agar kulihat adanya sebuah pengajaran
Saat menumpuk bagiku cercaan
Riakmu mengusap bening di mata hati
Lalu kulihat disana ada sebuah ketegaran
Aku yang menangis
tapi kau yang terluka
aku yang menjerit
tapi kerongkonganmu yang serak
aku yang lemah
tapi kau yang pingsan dan rebah
kurasakan kau
adalah semua dalam segala
tempat tercurah setiap isi serta rasa
kurasakan kau dan aku
seperti urat dalam nadi
nadi dalam denyut
dan denyut dalam nafas
bak udara dalam angin
SEMUA DALAM SEGALA
(buku harian abadi)
Aku tak perduli
Meski jalan hidup penuh duri
Aku tak perduli
Bila harus menjadi meneger perusahaan sulit
Bahkan aku lebih tidak perduli lagi
Meski harus disuap tangan kuli
aku akan peduli
Bila riuhmu berteriak hampa
Sebab duri ini menusuk akan hilang
Mengabut di akhir gulunganmu
Sebab sesulit apapun bernafas di dunia ini
akan lebih sulit lagi
bila tak menulis harian di deru suaramu
maka tetaplah menari
diatas riuhnya nada-nada alam
dan bila pagi mengintip kuucap untukmu salam
maka teruslah bergulung berkejaran
dibawah bangau yang bersiulan
dan bila terik siang membakar jeritanmu jadi pelarian
lalu jika malam menutup hidup
sang surya meredup
maka kau lembarannya, tempat langkah-langkahku hari ini
kutuliskan disana
karena hamparanmu
adalah kertas abadi
dalam buku harian hidupku
OMBAK
( inspirasi bisu )
Saat tak ada lagi sebuah harapan
Diantara keharusan tuk mengambil sebuah keputusan
Gulunganmu adalah inspiran
Yang merujuk diriku pada sebuah pendirian
Saat patah dan hilang arah
Semua masa berlalu dengan amarah
Riakmu membawa dingin. Merubah
Dan seratus dari seratus kekesalan
Serta seribu dari seribu kesenangan
Semuanya kau rasakan
Lalu kembali hadirkan riuhnya kata-kata pembangun jiwa
Dan tiap kebuntuan
Ditiap-tiap gang sempit kehidupan
Berubah jadi lorong melebar
Saat semua daya dan upaya
Berhenti menepi disudut gelap kegagalan
Musnah menghampa, jadi awal tuk melangkah maju
AKU harus berjiwa besar
Tuk mentapmu dan berkata
TERIMAKASIH atas kesetia’an
Sebab kau adalah inspirasi meski tanpa sua bagiku
OMBAK
(semua dalam segala)
Riuhmu suara hatiku
Teduhmu nyanyian Qalbuku
Dan segalamu adalah jiwaku
Sebab kau adalah mangkuk kesetia’an
Tempat kucurahkan air mata didalamnya
Karena kau adalah lagu kegembiraa’
Tempat kudendangkan simponi kesenangan
Dalam nada-nadanya
Saat membludak lusinan amarah untukku
Kakimu yang mengelus ketabahan
Agar kulihat adanya sebuah pengajaran
Saat menumpuk bagiku cercaan
Riakmu mengusap bening di mata hati
Lalu kulihat disana ada sebuah ketegaran
Aku yang menangis
tapi kau yang terluka
aku yang menjerit
tapi kerongkonganmu yang serak
aku yang lemah
tapi kau yang pingsan dan rebah
kurasakan kau
adalah semua dalam segala
tempat tercurah setiap isi serta rasa
kurasakan kau dan aku
seperti urat dalam nadi
nadi dalam denyut
dan denyut dalam nafas
bak udara dalam angin
SEMUA DALAM SEGALA
Minggu, 18 Juli 2010
PETUNJUK MID SEMESTER TEORI SASTRA
1. ANDA DIMINTA UNTUK MEMBACA DAFTAR BACAAN YANG TELAH DISEDIAKAN
2. MASING-MASING PESERTA MATA KULIAH MENDAPAT SATU JUDUL BACAAN
3. JUDUL MACAAN DAPAT DIPEROLEH DI PERPUSTAKAAN DAN TOKO BUKU GRAMEDIA
4. HASIL MID PALING LAMBAT DITERBITKAN PADA SENIN, 26 JULI 2010 DAN DIKUMPULKAN PADA SELASA, 27 JULI 2010
5. KETERLAMBATAN MENGUMPULKAN HASIL MID DIDENDA DENGAN BERKURANGNYA
NILAI 20 PADA NILAI MID YANG TELAH DICAPAI.
6. NILAI DAPAT DILIHAT BERSAMA DENGAN NILAI TUGAS DAN NILAI TES AWAL
SETELAH ADA INFORMASI MELALUI SMS.
7. SELAMAT BEKERJA
DAFTAR BACAAN :
KODE : 001 - CINTA DI DALAM GELAS ( ANDREA WIRATA )
KODE : 002 - PERAWAN SUCI DARI BASRAH ( WIDAD EL SAKKAKINI )
KODE : 003 - DEMI CINTAKU PADAMU ( WIWID PRASETYO )
KODE : 004 - DUA IBU ( ARSWENDO ATMOWILOTA )
KODE : 005 - ALL SHE EVER WANTED ( PATRICK REDMOND )
KODE : 006 - SURAT CINTA DARI BUKIT ZION ( LUQMAN HAKIM GAYO )
KODE : 007 - TIRAI MENURUN DAN LA BARKA ( NH. DINI )
KODE : 008 - CINDERELLA IN PARIS ( SARI MUSDAR )
KODE : 009 - MENJADI TUA DAN TERSISIH ( VANNY CHRISMAW)
ANGKATAN 30 (ANGKATAN PUJANGGA BARU)
1. Latar Belakang
Pujangga baru adalah majalah kesusastraan yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1933 di Jakarta (waktu itu Batavia). Para pendirinya adalah Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane. Penerbitan majalah ini berhenti pada saat invasi Jepang ke Hindia Belanda pada tahun 1942.
Angkatan Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan.
Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi "bapak" sastra modern Indonesia.
Pada mulanya, Pujangga baru adalah nama majalah sastra dan kebudayaan yang terbit antara tahun 1933 sampai dengan adanya pelarangan oleh pemerintah Jepang setelah tentara Jepang berkuasa di Indonesia.
Adapun pengasuhnya antara lain Sultan Takdir Alisjahbana, Armein Pane, Amir Hamzah dan Sanusi Pane. Jadi Pujangga Baru bukanlah suatu konsepsi ataupun aliran. Namun demikian, orang-orang atau para pengarang yang hasil karyanya pernah dimuat dalam majalah itu, dinilai memiliki bobot dan cita-cita kesenian yang baru dan mengarah kedepan.
2. Peristiwa Penting yang Terjadi pada Masa Angkatan Pujangga Baru
Seperti telah disinggung diatas, pada zaman pendudukan Jepang majalah Pujangga Baru ini dilarang oleh pemerintah Jepang dengan alasan karena kebarat-baratan. Angkatan Pujangga Baru (1930-1942) dilatarbelakangi kejadian bersejarah “Sumpah Pemuda” pada 28 Oktober 1928.
Ikrar Sumpah Pemuda 1928:
• Pertama Kami poetera dan poeteri indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
• Kedoea Kami poetera dan poeteri indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
• Ketiga Kami poetera dan poeteri indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
3. Visi dan Misi Angkatan Pujangga Baru
Melihat latar belakang sejarah pada masa Angkatan Pujangga Baru, tampak Angkatan Pujangga Baru ingin menyampaikan semangat persatuan dan kesatuan Indonesia, dalam satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.
4. Ciri-Ciri Sastra Pada Masa Angkatan Pujangga Baru
Sudah menggunakan bahasa Indonesia
Menceritakan kehidupan masyarakat kota, persoalan intelektual, emansipasi (struktur cerita/konflik sudah berkembang)
Pengaruh barat mulai masuk dan berupaya melahirkan budaya nasional
Menonjolkan nasionalisme, romantisme, individualisme, intelektualisme, dan materialisme.
5. Pengarang dan Karya Sastra Pujangga Baru
• Sutan Takdir Alisjahbana
o Dian Tak Kunjung Padam (1932)
o Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
o Layar Terkembang (1936)
o Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
o Kalah dan Manang
• Hamka
o Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
o Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)
o Tuan Direktur (1950)
o Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
• Armijn Pane
o Belenggu (1940)
o Jiwa Berjiwa
o Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
o Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
o Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
• Sanusi Pane
o Pancaran Cinta (1926)
o Puspa Mega (1927)
o Madah Kelana (1931)
o Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
o Kertajaya (1932)
• Tengku Amir Hamzah
o Nyanyian Sunyi (kumpulan puisi:1954)
o Begawat Gita (1933)
o Setanggi Timur (1939)
o Buah Rindu (1950)
• Rustam Effendi
o Bebasari (1953)
o Pertjikan permenungan (1957)
• Muhammad Yamin
o Drama Ken Arok dan Ken Dedes (1951)
o Indonesia Tumpah Darahku (1928)
o Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
o Tanah Air (1920)
Pelopor Angkatan Pujangga Baru adalah Sutan Takdir Ali Syahbana, Armjin Pane, dan Amir Hamzah.
CONTOH KARYA :
TANAH AIR
Pada batasan, Bukit Barisan
Memandang aku, ke bawah memandang;
Tampak hutan rimba dan ngarai;
Lagi pun sawah, sungai yang permai;
Serta gerangan, lihatlah pula
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk daun kelapa;
Itulah tanah, tanah airku,
Sumatra namanya, tumpah darahku.
Sesayup mata, hutan semata,
Bergunumg bukit, lemah sedikit;
Lauh di sana, di sebelah situ,
Dipagari gunumg satu per satu
Adalah gerangan sebuah surga,
Bukannya janat bumi kedua
Firdaus Melayu di atas dunia!
Itulah tanah yang kusayangi,
Sumatra namanya, yang kujunjungi.
Pada batasan, bukit barisan,
Memandang ke pantai, teluk permai;
Tampaklah air, air segala
Itulah laut, Samudra Hindia.
Tampaklah ombak, gelombang pelbagai
Memecah ke pasir, lalu berderai,
“Wahai Andalas, pulau Sumatra,
“Harumkan nama, selatan utara!
(Jong Sumatra, Th. III, no. 4, April 1920, h. 52)
KELOMPOK ANGKATAN 30 :
1. RAMAYLA
NIM. 2008-35-046
2. SURADIN BUTON
NIM. 2007-35-047
3. YUDIT WATMARESAN
NIM. 2004-35-018
Langganan:
Postingan (Atom)